ITTIHAD, HULUL, DAN WAHDAT AL-WUJUD

  • OOM MUKARROMAH Fakultas Syari'ah IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Pencapaian tertinggi yang diidamkan bagi seorang sufi adalah bersatunya sang pencinta dan yang dicinta. Konsep penyatuan ini bagi Abu Yazid al-Bustami dikenal dengan istilah Ittihad, bagi al-Hallaj dikenal dengan istilah Hulul dan lbnu Arabi menyebutnya dengan istilah wahdat al-wujud. Perbedaan antara ittihad al-Bustami dengan hulul al-Hallaj adalah dalam hulul diri al-hallaj tidak melebur atau hilang, sementara dalam ittihad diri Abu Yazid hancur dan yang ada hanya diri Tuhan. Jadi dalam ittihad yang dilihat satu wujud, sedang dalam hulul ada dua wujud tetapi bersatu dalam satu tubuh. Dalam teorinya tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya emanasi, yaitu Allah menampakkan segala sesuatu dari wujud ilmu menjadi wujud materi. Filosofi dari ketiga konsep di atas (ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud) adalah bahwa Allah ingin melihat diri-Nya di luar dirii-Nya. Sehingga dijadikan-Nya alam ini yang merupakan cermin bagi Allah di kala ingin melihat diri-Nya.

Published
Jan 31, 2017
How to Cite
MUKARROMAH, OOM. ITTIHAD, HULUL, DAN WAHDAT AL-WUJUD. Tazkiya, [S.l.], v. 16, n. 01, p. 129-146, jan. 2017. ISSN 1411-7886. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/tazkiya/article/view/212>. Date accessed: 18 oct. 2021.
Abstract view
14657 times
PDF (Bahasa Indonesia) download
11144 times