EFEKTIVITAS MEDIASI DALAM MENCEGAH PERCERAIAN DAN KAITANNYA DENGAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN 2008

Studi di Pengadilan Agama Serang

  • Tb. Ahmad Ulfi Pascasarjana IAIN SMH Banten

Mediasi merupakan salah satu upaya penyelesaian perkara perceraian yang sangat efektif, penyelesaian dengan cara mediasi dipandang tidak akan mengalami ketidakadilan karena hasil keputusannya diselesaikan atas dasar kesepakatan keduabelah pihak, mediasi dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Serang wajib dilaksanakan untuk menekan tingkat perkara perceraian serta memperbaiki kualitas dalam upaya damai, karena apabila Pengadilan tidak melaksanakan mediasi maka hasil keputusannya dianggap batal demi hukum. Proses mediasi menggunakan orang ketiga yang disebut dengan mediator. Seorang mediator dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kemampuannya sehingga ia dapat memberikan solusi yang terbaik untuk keduabelah pihak yang berperkara. Dari latar belakang di atas, maka penulis menggunakan perumusan masalah sebagai berikut: apakah proses perdamaian dengan mediasi efektif dalam penyelesaian perkara perceraian?, bagaimana upaya yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Serang dalam memaksimalkan mediasi dalam menyelesaiakan perceraian?, bagaimana kaitan mediasi dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008? Dari hasil penelitian penulis, dapat diperoleh keterangan bahwa, hasil kegiatan mediasi yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Serang dariĀ  data yang masuk sebanyak 135 perkara, dengan hasil rincian sebagai berikut: talak berjumlah 46 perkara yang divonis gagal, cerai gugat berjumlah 88 perkara namun yang dapat didamaikan 3 perkara, verzet berjumlah 1 perkara dengan fonis gagal. Jadi kegiatan mediasi yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Serang dianggap tidak efektif, karena dari perkara yang masuk sebanyak 135 perkara namun yang dapat didamaikan sebanyak 3 perkara. Kendala yang dihadapi dalam mediasi ini antara lain berasal dari kemauan para pihak yang kuat untuk bercerai, kurangnya hakim mediator yang berkompetensi dan ruang yang tidak representatif. Sebaiknya Mahkamah Agung lebih memaksimalkan pendidikan dan pelatihan atau seminar secara berkala kepada hakim di Pengadilan Agama agar hakim mediator mempunyai kemampuan yang mumpuni sehingga angka perceraian berkurang serta melakukan usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seperti sosialisasi tentang pentingnya mediasi. Mediasi mendapat kedudukan penting dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008, karena proses mediasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses berperkara di pengadilan. Kehadiran Perma Nomor 1 Tahun 2008 dimaksud untuk memberikan kepastian, ketertiban, kelancaran dalam proses mendamaikan para pihak untuk menyelesaikan suatu sengketa perdata.

Published
Jan 16, 2017
How to Cite
ULFI, Tb. Ahmad. EFEKTIVITAS MEDIASI DALAM MENCEGAH PERCERAIAN DAN KAITANNYA DENGAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN 2008. Bil Dalil, [S.l.], v. 1, n. 02, p. 121-146, jan. 2017. ISSN 2541-707X. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/bildalil/article/view/126>. Date accessed: 28 nov. 2020.
Abstract view
651 times
PDF (Bahasa Indonesia) download
409 times