HAM DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI ISLAM

  • Wazin Wazin UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) muncul dari keyakinan manusia itu sendiri bahwa semua manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah sama dan sederajat. Kesadaran akan hak-hak mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia dipicu oleh beberapa peristiwa. Deklarasi HAM yang tercatat dalam sejarah merupakan reaksi dari realitas seperti peperangan, revolusi sosial hingga kritik terhadap perspektif pembangunan bangsa terjadi hingga menimbulkan kesadaran untuk menciptakan konsep-konsep tentang hak asasi manusia.


Dalam Islam, konsep-konsep kemanusiaan bukanlah merupakan reaksi yang timbul dari sebuah realitas. Konsep Islam mengenai manusia didasarkan pada pendekatan teosentris yang bersumber dari kitab Al Qur’an yang menjadi dasar pijakan kehidupan masyrakat muslim. Penghargaan Islam terhadap kemanusiaan telah ditetapkan sejak penciptaan manusia di muka bumi serta kedudukan istimewa manusia sebagai khalifah fil ard. Kemanusiaan dalam Islam tidak sebatas ranah konsep dalam Al Qur’an. Konsep itu mampu diterjemahkan dalam masyarakat heterogen yang terdiri dari banyak suku, ras dan agama. Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam membuktikannya dalam sejarah membuat perjanjian Piagam Madinah.


Penghargaan Islam terhadap kemanusiaan salah satunya nampak pada doktrin ushul fiqh yang disebut dengan al kulliyatul kahms (lima pokok pilar) atau dengan kata lain disebut dengan maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan univesal syari’ah) yang terdiri dari Hifdz al-dien (menjamin kebebasan beragama), Hifdz al- nafs (memelihara kelangsungan hidup), Hifdz al-aql (menjamin kreatifitas berfikir) Hifdz al-nasl (menjamin keturunan dan kehormatan) Hifdz al-mal (menjamin kepemilikakn harta, property dan kekayaan). Penetapan hukum ekonomi Islam selalu terikat pada tujuan-tujuan universal (maqashid al-syari’ah) yang pada dasarnya merupakan pemeliharaan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Ekonomi Islam dalam tataran praktek, etika maupun hukum selalu dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan (maslahah) masyarakat.  Dalam ekonomi Islam, unsur kemanusiaan sebagai mahluk material dan spiritual mendapat perhatian agar semua kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan kerusakan (mafsadat)


 


Kata Kunci: HAM, Hukum Ekonomi Islam


Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) muncul dari keyakinan manusia itu sendiri bahwa semua manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah sama dan sederajat. Kesadaran akan hak-hak mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia dipicu oleh beberapa peristiwa. Deklarasi HAM yang tercatat dalam sejarah merupakan reaksi dari realitas seperti peperangan, revolusi sosial hingga kritik terhadap perspektif pembangunan bangsa terjadi hingga menimbulkan kesadaran untuk menciptakan konsep-konsep tentang hak asasi manusia.


Dalam Islam, konsep-konsep kemanusiaan bukanlah merupakan reaksi yang timbul dari sebuah realitas. Konsep Islam mengenai manusia didasarkan pada pendekatan teosentris yang bersumber dari kitab Al Qur’an yang menjadi dasar pijakan kehidupan masyrakat muslim. Penghargaan Islam terhadap kemanusiaan telah ditetapkan sejak penciptaan manusia di muka bumi serta kedudukan istimewa manusia sebagai khalifah fil ard. Kemanusiaan dalam Islam tidak sebatas ranah konsep dalam Al Qur’an. Konsep itu mampu diterjemahkan dalam masyarakat heterogen yang terdiri dari banyak suku, ras dan agama. Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam membuktikannya dalam sejarah membuat perjanjian Piagam Madinah.


Penghargaan Islam terhadap kemanusiaan salah satunya nampak pada doktrin ushul fiqh yang disebut dengan al kulliyatul kahms (lima pokok pilar) atau dengan kata lain disebut dengan maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan univesal syari’ah) yang terdiri dari Hifdz al-dien (menjamin kebebasan beragama), Hifdz al- nafs (memelihara kelangsungan hidup), Hifdz al-aql (menjamin kreatifitas berfikir) Hifdz al-nasl (menjamin keturunan dan kehormatan) Hifdz al-mal (menjamin kepemilikakn harta, property dan kekayaan). Penetapan hukum ekonomi Islam selalu terikat pada tujuan-tujuan universal (maqashid al-syari’ah) yang pada dasarnya merupakan pemeliharaan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Ekonomi Islam dalam tataran praktek, etika maupun hukum selalu dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan (maslahah) masyarakat.  Dalam ekonomi Islam, unsur kemanusiaan sebagai mahluk material dan spiritual mendapat perhatian agar semua kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan kerusakan (mafsadat)


 


Kata Kunci: HAM, Hukum Ekonomi Islam

Published
Sep 22, 2020
How to Cite
WAZIN, Wazin. HAM DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI ISLAM. Al Qisthas: Jurnal Hukum dan Politik Ketatanegaraan, [S.l.], v. 11, n. 1, p. 93-120, sep. 2020. ISSN 2715-3614. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqisthas/article/view/3320>. Date accessed: 29 nov. 2020. doi: http://dx.doi.org/10.37035/alqisthas.v11i1.3320.
Abstract view
80 times
Pdf (Bahasa Indonesia) download
65 times