AGAMA DAN PROBLEM MAKNA HIDUP

  • Mohamad Hudaeri IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Abstract

Manusia tidak hanya sekedar ''hewan berpikir" (homo sapiens), ia lebih tepat didefenisikan sebagai homo spiritual (makhluk spiritual. Sebab kalau dilihat dari kecerdasan akal, ada binatang yang juga memiliki kecerdasan, tetapi tidak ada binatang yang memiliki kesadaran makna dan tujuan hidup akan yang transenden. Hanya manusia yang memiliki kesadaran akan makna hidup dan eksistensinya di dunia ini ''melampaui" batas-batas dunia fisik.
Dunia ''makna" adalah dunia manusia. Manusia tidak bisa melakukan sesuatu, maupun memahami sesuatu apabila sesuatu tersebut tidak bermakna baginya. Bertindak berarti melakukan sesuatu demi suatu tujuan dan sesuatu hanya bisa menjadi tujuan apabila mempunyai arti atau bermakna. Suatu tindakan dianggap bermakna karena mencakup sesuatu yang lebih luas dan berkaitan dengan hal-hal yang eksistensial. Karena itu yang sering menjadi persoalan adalah problem makna hidup. Problem makna hidup merupakan problem eksistensial manusia, karena menyangkut tentang eksistensi kehidupannya sendiri di muka bumi ini.
Bagaimana peran agama tentang problem eksisitensial manusia itu? Hati nurani merupakan tempat bersemayamnya spiritualitas manusia. Karena itu kesadaran akan makna dan tujuan hidup selalu terkait dengan spiritualitas. Spiritualitas merupakan jantungnya agama. Agama tanpa spiritualitas akan terasa kering dan hampa, karena ia hanya akan berupa ajaran-ajaran normatif dan ritual yang tidak menyentuh kedalaman kalbu manusia. Karena itu penghayatan agama yang benar adalah penghayatan yang didasarkan atas spiritualitas yang tulus dan murni bukan didasarkan alas suatu konstruks pemikiran yang sempit yang menimbulkan sikap fanatik dan ekstrim.

Published
Aug 31, 2007
How to Cite
HUDAERI, Mohamad. AGAMA DAN PROBLEM MAKNA HIDUP. Al Qalam, [S.l.], v. 24, n. 2, p. 219-239, aug. 2007. ISSN 2620-598X. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqalam/article/view/1633>. Date accessed: 27 jan. 2020. doi: http://dx.doi.org/10.32678/alqalam.v24i2.1633.