PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. TENTANG ZUHUD

  • Suadi Saad IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Abstract

Dilihat dari perspektif hadis Nabi saw, zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan hal-hal duniawi, tetapi merasa hati lebih terpaut kepada apa yang di sisi Allah daripada kepada harta, serta lebih berharap akan pahala dari musibah yang menimpa. Zuhud tidak selalu identik dengan kemiskinan. Kaya harta dengan cara yang halal, dan tidak menghambakan diri kepada kekayaan tersebut, sebaliknya hati selalu terpaut dengan apa yang ada di sisi Allah, juga merupakan zuhud.
Dari perspektif hadis pula, pada hakikatnya zuhud ada dua: 1) zuhud dari dunia, dan 2) zuhud dari apa yang dimiliki manusia. Zuhud terhadap dunia, bukanlah dengan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh syariat, tetapi "hati lebih terpaut kepada apa yang ada di sisi Allah dari pada kepada apa yang kita miliki': dan 'Jika ditimpa musibah duniawi, lebih berharap akan pahalanya daripada tidak adanya musibah itu sendiri': Sementara, zuhud terhadap milik manusia akan menimbulkan rasa cinta mereka kepada kita.

Published
Dec 29, 2006
How to Cite
SAAD, Suadi. PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. TENTANG ZUHUD. AL QALAM, [S.l.], v. 23, n. 3, p. 355-387, dec. 2006. ISSN 2620-598X. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqalam/article/view/1502>. Date accessed: 12 nov. 2019. doi: http://dx.doi.org/10.32678/alqalam.v23i3.1502.