POSISI IJTIHAD RASUL DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM

KAJIAN DARI PERSPEKTIF FIQH SIASAH

  • H Saepullah

Abstract

Muhamad SAW dalam konteks sebagai mufassir terhadap dinamika hukum Islam, tidaklah seperti robot yang totalitas aktifitas tugasnya dikendalikan oleh dominasi otoritas wahyu, dengan konsekuensi ketika wahyu tersebut vakum beliau kembali ke posisi semula sebagai manusia yang pasif.
Refleksi fikriyah sebagai konsekuensi logis kemanusiaannya, sama sekali tidak dipasung. Malah dalam hal ini terkesan diberi peluang untuk eksis. Terbukti, kadang beliau melakukan ijtihad. Namun itu pun dilakukan, manakala digugat oleh gaya tarik situasi dan kondisi sedang wahyu tidak atau belum turun. Adapun isyarat justifikasinya terrekomendasi pada subtansi firman Allah (QS.21:107), bahwa beliau diutus ke muka alam dunia ini, tidak lain adalah untuk menebarkan aroma rahmat bagi seluruh alam.
Ijtihad yang telah dilakukan beliau dalam bentuk dan aneka kasusnya, telah menyuguhkan sebuah pembelajaran yang amat berhaga, khususnya bagi pemerhati dinamika hukum Islam. Beliau dengan dialektika ijtihadnya, juga sekaligus telah menggulirkan pola gambaran metodologis dan sistematika bagaimana cara istinbat al-ahkam. Sehingga dinamika, karakteristik, elastisitas dan elegansi hukum Islam semakin tampak jelas. Di sektor inilah, muara hikmah yang sesungguhnya sebagaimana diungkapkan Ali al-Sais.
Di samping, itu ijtihad beliau yang berkait dengan soal siasah seperti tekan perjanjian dengan fihak kaum kafir, sekaligus menunjukan bukti kepiawaian beliau dalam mengusung jurus-jurus strategi dalam upaya menerkan arogansi mereka. Faktanya (antara lain) tekan Perjanjian Hudaibah. Semula banyak pihak meragukan ijtihad beliau dalam kasus ini, karena dinilai terlalu lunak dan menguntungkan fihak kafir, tapi realitasnya tidaklah demikian, justeru sebaliknya. Setelah perjanjian ini, banyak dari fihak mereka yang menyatakan diri masuk Islam. Juga termasuk fenomenal (sebagaimana diungkapkan Nurholis Majid), ijtihad beliau dalam menyusun agenda Piagam Mandinah. Piagam Madinah diakui oleh para sejarawan sebagai startegi siasah beliau yang paling ulung dalam rangka memperlihatkan islam citra islam yang di satu fihak Ya’lu Wala Yu’ la ‘Aliah, sedangkan di fihak lain Islam adalah agam rahmatal lil al-alamin.

Published
Apr 28, 2006
How to Cite
SAEPULLAH, H. POSISI IJTIHAD RASUL DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM. Al Qalam, [S.l.], v. 23, n. 1, p. 77-99, apr. 2006. ISSN 2620-598X. Available at: <http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqalam/article/view/1499>. Date accessed: 15 july 2020. doi: http://dx.doi.org/10.32678/alqalam.v23i1.1499.